Sebuah Perkenalan

Jika memang gemericik air bisa jadi obat rindu maka bawalah diriku dalam bayangan air terjun Kedung Goa
Bukan harus membuktikan apa-apa, setidaknya ada secuil kenangan dari ketinggian memandang kaki langit. Setinggi apapun gunung yang kita daki tetaplah dia di bawah lutut kita
Apa yang hendak ku katakan? Aku belum kehabisan kata tapi sudah tidak mampu berkata, tentang daun jati yang merangas terpapar kemarahan manusia, yang kemudian terbakar api cemburu nafsu. Namun dia tetap tumbuh kembali dan menaungi
(Cagar Alam RKPH Gumeng)
Iklan

Tak Kan Dimakan cintaku

Kah kah kah…………
Kah kah kah kah…….
Kel kel kel…….
Kel kel kel kel……..
Keh kel kah kel…..
kah kah kel kah kel…….
(lebih…)

Fajar Di Sini

Mencoba untuk melompat bukan hanya sekedar bangkit
Mencoba untuk melompat bukan hanya sekedar bangkit

Akhirnya……….

Mungkin hanya itu kata yang tepat

Mungkin itu juga kata yang menyimpang dari kelaziman, andai mungkin tidak lazim, mungkin memang benar-benar terlalu tidak lazim. Toh semua selalu berawal dari awal, dari angka nol kemudian satu dan mungkin akan kembali ke angka satu, dan selalu kembali ke angka nol.

Tetapi bukankah semua pasti ada akhirnya?

Dan itu pasti, bukan sebuah pertayaan, pasti ada akhirnya, dan pasti berakhir. Dan kemungkinan tenggelam, karena pasti berakhir.

Jika memang akhir adalah awal maka tidak ada salahnya memulai sesuatu yang baru dan benar-benar baru

Mungkin segalanya ada kemungkinan yang dimungkinkan

Dan ini mungkin awal kebangkian dari keterpurukan setelah sekian lama. Mungkin baru kemarin terpuruk tapi mungkin sudah begitu lama terpuruk hingga lupa kapan pasti waktunya terpuruk……

Biarlah……, ini menjadi awal kebangkitan dari keterpurukan, sementara aku tidak bisa mendiskripsikan keterpurukan itu sendiri meskipun aku merasa terpuruk. Mungkin sekali lagi mungkin saya hanya merasa terpuruk tapi tidak benar-benar terpuruk…..

Selamat siang semua….

Surat Kepada Sahabat

zzzMungkin sudah berapa kali aku mem_backspace setiap kalimat yang sudah terketik begitu panjang, susah payah jari-jemari mencoba menari diantara keyboard dan menyatukan huruf demi huruf, tapi kenapa masih saja serasa tertawan haruskah kulanjutkan atau….( terhenti terdiam)…mengamati keluar jendela sejenak untuk melihat kawanan awan,tersenyum dan sedikit melambaikan tangan kepada angin yang terlihat bergegas untuk melaksanakan tugasnya, ..

Baiklah mungkin bukan saatnya keharusan tulisan itu untuk dibaca…tulisan untuk dimaknai …atau tulisan untuk dimengerti…..meski kata yang tercoret itu dianggap hanya sebuah nyanyian yang tak merdu ataupun ingatan yang akan terlupa seketika itu juga..biarlah ….biarkanlah aku mencoba mengingat sesuatu yang pernah terlupa itu, menyanyi meski tak merdu, menulis meski aku tak kan pernah mengerti…Bukanlah saatnya tidak menghargai sebuah tulisan…meski hanya tulisan yang kutemukan didapur ketika hendak menggoreng tempe yang terbungkus selembar kertas..yang entah hanya beberapa kata yang masih tersisa ,entah hanya selembar halaman yang terpisah dari kawannya.,ataupun kata yang mulai samar terkena air fermentasi tempe..biarlah aku mengapresiasikannya…!
baca lebih lanjut

Tsunami, Merapi, Lalu Apa Lagi?

Entah karena apa kita berpijak pada tanah yang rawan bencana? Dari dalam bumi mengintip setiap saat, dari samping kanan – kiri, samudera siap melumat. Sebagai kepulauan yang mengapung diatas bara ring Pasifik tentunya kita sudah mahfum harus berintim dengan gunung berapi berbagai perilaku dan bentuk. Dan sebagai kepulauan yang eksis di antara dua samudera bukan hal mustahil ombak besar akan datang saat gejolak dari dalam bumi mengaduk ketenangan gelombang. Tentang bencana yang timbul biarlah para ahlinya yang bicara, toh keadaan akan bertambah ruwet jika kita yang tidak paham sama sekali dengan gempa vulkanik, tentang perilaku Merapi, tentang lempeng Eurasia.

Belum kering ingatan dari deru tsunami Aceh dan sebagian Sumatera, belum berhenti semburan Lapindo, belum berhenti air mata Wasior, duka Mentawai, kini Eyang Petruk (demikian penduduk sekitar menjuluki penguasa ghaib Merapi) membuat gebrakan yang betul-betul menggebrak dan membuat kalang kabut berbagai kalangan. (lebih…)

Batik, Nasibmu Kini

Masih ingat dengan batik? Tentunya pertanyaan ini tidak etis dan terkesan menghina, apalagi pertanyaan ini kita tujukan pada orang Indonesia. Hingar bingar pesta perayaan penetapan batik sebagai budaya warisan dunia milik Indonesia tidaklah sesuatu yang seharusnya gampang kita lupakan. Meski yang namanya lupa itu manusiawi bukan berarti ada celah pengampunan (ini cuma sekedar info ; ancaman ini tidak sungguh-sungguh, bisa panjang urusanya kalau sampai terjadi) bagi yang dengan sengaja melupakan batik. Apalagi merelakanya jadi milik negara tetangga.

Bicara klaim dan merasa meiliki atas sebuah produk budaya memang sulit tapi banyak juga sisi yang menarik untuk sekedar kita ketahui dasar kepemilikanya. Demo dan hujatan pernah kita lontarkan pasca pernyataan Malaysia atas beberapa macam budaya yang merasa kita miliki, dan salah satunya adalah batik.

(lebih…)